Mengenang Tragedi Dale Earnhardt Di Daytona 500 2001

Kecelakaan Dale Earnhardt

Kecelakaan Dale Earnhardt

Sudah 16 tahun Dale Earnhardt meninggalkan kita. Ia merupakan salah satu pembalap terbaik dalam sejarah NASCAR Seri Piala. Berjuluk The Intimidator, gaya membalap yang agresif yang lantas menghasilkan tujuh gelar (menyamai catatan Richard Petty dan kemudian disamai oleh Jimmie Johnson) dan 76 kemenangan lomba membuatnya menjadi salah satu sosok yang dihormati kalangan insan motorsport di dunia. Kepergiannya yang tragis di akhir lomba Daytona 500 pada 18 Februari 2001 memberikan banyak masukan untuk perbaikan standar keamanan di NASCAR saat itu. Earnhardt jadi pembalap NASCAR Seri Piala terakhir yang meninggal saat berlomba sampai saat ini.

Kilas balik saat-saat sebelum ia meninggal dunia. Di awal musim 2001 tidak biasanya Earnhardt memilih untuk mengikuti lomba Daytona 24 Jam. Ia bersama rekan setimnya yaitu Dale Earnhardt Jr. (anak Earnhardt), Andy Pilgrim dan Kelly Collins finis keempat dalam lomba tersebut. Berikutnya di Speedweek, untuk pertama kali dalam sejarah Earnhardt mengalami dua kekalahan beruntun. Pertama di Budweiser Shootout ia finis kedua dibelakang Tony Stewart dan dalam lomba Twin Duel 125, kemenangan Earnhardt digagalkan oleh Sterling Marlin yang melakukan aksi slingshot untuk merebut kemenangan tipis. Ini jadi kali pertama Earnhardt gagal memenangi Speedweek sejak dekade 1990-an.

Di lomba Daytona 500 yang merupakan acara puncak dari rangkaian Speedweek, Earnhardt start di posisi 7. Di pagi hari jelang lomba berlangsung ia tampak percaya diri dan tenang dalam menghadapi lomba. Pemenang lomba Daytona 500 edisi 1998 ini mampu maju ke barisan depan saat lomba berlangsung. Ia memimpin sebanyak 17 lap dan hanya dua caution terjadi di sepertiga awal lomba yaitu insiden Jeff Purvis di lap 49 dan insiden Kurt Busch di lap 157.

Jelang sepertiga akhir lomba tepatnya di lap 173, Earnhardt berada di posisi 3. Di depannya dua mobil dari tim Dale Earnhardt Inc. (DEI) yang dikelola oleh Teresa Earnhardt, sang istri, saling berebut memimpin lomba yaitu mobil #15 Michael Waltrip dan mobil #8 yang dikendarai putranya sendiri Dale Jr. Di lap itu juga terjadi insiden Big One yang lantas memakan 19 mobil. Restart dilakukan di lap 180 dan sebelumnya Earnhardt sempat berkomunikasi dengan Andy Pilgrim, salah satu krunya mengenai saran dan strategi yang harus dilakukan. Komunikasi ini konon jadi komunikasi terakhir Earnhardt di lomba tersebut.

Lomba dimulai lagi usai lap 180, Sterling Marlin kembali lakukan aksi slingshot dan merebut pimpinan lomba tapi hanya bertahan 3 lap saja sebelum diambil alih lagi Michael Waltrip dan Dale Jr. Lap demi lap berlalu hingga akhirnya tibalah lap terakhir. Earnhardt nampaknya sudah cukup senang melihat dua rekannya berebut kemenangan di Daytona 500 2001 sehingga ia memilih untuk mencoba memblok Sterling Marlin. Rusty Wallace dan Ken Schrader ikut meramaikan perebutan kemenangan di lap terakhir sampai area T3.

Insiden yang tidak diinginkan pun terjadi di T4, Earnhardt saling bersenggolan dengan Marlin dan kehilangan kontrol mobil. Ia lantas coba menyeimbangkan namun alur jalurnya tepat berada di depan Schrader yang pada akhirnya keduanya saling bertabrakan sampai akhirnya menghajar tembok pembatas dalam kecepatan sekitar 249 sampai 257 km/j. Setelah tabrakan terjadi, hood penutup kap mesin mobil Earnhardt terbuka dan mengenai kaca depan mobil. Waltrip dan Dale Jr. masuk finis di urutan 1-2. Schrader mampu keluar dari mobilnya dan langsung mengecek keadaan Earnhardt. Mendapati Earnhardt dalam keadaan tidak sadar, ia lantas panik memanggil tim medis. Dalam hasil akhir lomba meskipun Earnhardt dan Schrader tidak masuk finis, keduanya dinyatakan menduduki posisi 12 dan 13.

Di garis finis, Dale Jr. yang ikut panik melihat kecelakaan ayahnya langsung berlari menuju lokasi kecelakaan. Earnhardt dilarikan ke rumah sakit terdekat ke Halifax Medical Center. Upaya untuk menghidupkan kembali Earnhardt gagal dan kematiannya secara resmi diumumkan pada pukul 17:16 EST (21:16 UTC). Penyebab resmi kematian Earnhardt ini diberikan oleh kantor pemeriksa medis Volusia County sebagai dampak trauma tumpul ke kepalanya ditambah cedera lainnya. Earnhardt juga menderita patah tulang tengkorak basilar fatal akibat insiden tersebut.

Kurang dari dua jam setelah kecelakaan itu, presiden NASCAR Mike Helton mengumumkan kematian Earnhardt secara resmi. ‘Sebuah penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa mobil Earnhardt menghantam dinding penahan beton pada sudut kemiringan (sudut kendaraan diukur dari dinding muka ke garis pusat titik dampak mobil) antara 55-59°, dikombinasikan dengan sudut lintasan 13,6° (jalur kendaraan yang mendekat dinding) dan kecepatan diperkirakan antara 157 sampai 161 mph (253 sampai 259 km / jam). Earnhardt mengalami dorongan kecelakaan sekitar 80 milidetik dalam durasi. Hasil dari insiden Earnhardt saat menghantam dinding dan dampak dari mobil Schrader yang dikombinasikan menghasilkan perubahan dalam kecepatan sekitar 42-44 mph (68-71 km / jam). Gaya yang diberikan adalah setara dengan penurunan vertikal dari ketinggian 61,8 kaki (18,8 m). Kemudian pengujian kereta luncur dari sebuah kendaraan eksemplar menghasilkan gaya g-force mulai dari -68 ke -48 g, tergantung pada metode pengukuran variasi.

Kematian Earnhardt mengundang perhatian yang amat besar tidak hanya dari AS saja melainkan dari seluruh dunia. Media AS menyebut insiden Daytona 500 2001 sebagai “Black Sunday”. Pembahasan kecelakaan Earnhardt juga masuk dan jadi topik utama dalam majalah Time saat itu. Hampir semua saluran TV AS memutar video lomba dan insiden Earnhardt di akhir lomba Daytona 500.

Layanan publik untuk penghormatan terakhir untuk pemakaman Earnhardt diadakan pada 22 Februari 2001 di Gereja Kalvari di Charlotte, North Carolina. Kematiannya menyebabkan NASCAR mengubah kebijakan soal pengumuman detil insiden. Bekerjasama dengan tim kepolisian, NASCAR secara rutin mengumumkan hampir setiap detil dari hasil penyelidikan.

Beberapa hari setelah kecelakaan, Sterling Marlin menerima surat kebencian dan ancaman pembunuhan dari fans yang menyalahkannya atas kematian Earnhardt ini. Dale Jr. lantas turun tangan untuk menyelesaikan hal ini dan meminta semua orang yang mencintai ayahnya untuk berhenti menyalahkan Marlin sebagai penyebab kecelakaan yang menewaskan ayahnya.

Selang satu minggu setelah kecelakaan itu, Bill Simpson, pemilik perusahaan -Simpson Performance Products- yang membuat perangkat keamanan sabuk pengaman untuk mobil Earnhardt, juga melaporkan bahwa ia juga menerima ancaman pembunuhan dari fans yang marah. Ketika ditanya tentang hal ini, Darrell Waltrip menyatakan bahwa “NASCAR adalah olahraga emosi dan bahwa semua fans amat mencintai pembalap yang mereka dukung jadi ketika sesuatu seperti ini terjadi, hubungan emosional yang erat ke pembalap membuat Anda ingin menyalahkan seseorang dan bahwa seseorang harus terlibat dan sayangnya menyalahkan orang belum tentu tepat dan malah akan jadi sebuah kesalahan besar bagi setiap fans.”

Dampak dari kematian Earnhardt, tim Richard Childress Racing lantas menarik masuk Kevin Harvick untuk membalap di kursi yang ditinggalkan Earnhardt. Nomor #3 yang biasa dipakai Earnhardt digantikan dengan nomor #29 untuk dipakai Harvick. Nomor #3 lantas muncul lagi di Seri Piala di musim 2014 untuk Austin Dillon.

Earnhardt jadi pembalap keempat yang tewas dalam insiden di periode 2000-2001. Melihat hal ini NASCAR bergerak cepat melakukan beberapa perubahan untuk standar keamanan diantaranya pemakaian sabuk pengaman enam titik, pemakaian HANS (Head and Neck Support), upgrade fasilitas keamanan sirkuit dengan instalasi SAFER Barrier (soft wall) dan pemakaian helm full face (Earnhardt jadi pembalap terakhir yang mengenakan helm semi full face ala pereli WRC).

Dalam hal perbaikan keamanan mobil, NASCAR lantas mengembangkan mobil Car of Tomorrow yang mulai di uji coba di musim 2007. Mobil CoT ini lantas di upgrade lagi menjadi mobil Gen-6 yang dipakai sejak musim 2013 sampai saat ini.

Dale Earnhardt menjadi pembalap terakhir Seri Piala yang meninggal sampai saat ini. Kematiannya membuat beberapa pembalap diantaranya Eddie Cheever menyamakannya dengan sosok Ayrton Senna dari ajang F1 yang juga meninggal secara tragis akibat kecelakaan di lomba GP San Marino 1994.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Motorsport dan tag , , , , , , . Tandai permalink.