Yamaha Yang Tidak Selalu Di Depan Saat Di F1

Damon Hill (Arrows Yamaha, 1997)

Damon Hill (Arrows Yamaha, 1997)

Tidak peduli bagaimana seseorang melihatnya, keterlibatan Yamaha di arena F1 sejak tahun 1989 sampai 1997 lebih banyak mengarah ke hasil negatif daripada positifnya. Saat Yamaha masuk ke F1 pada 1989 bersama tim Zakspeed, mesin mereka hanya bisa mengantar tim dua kali lolos kualifikasi. Hasil amat memalukan ini kemudian turut mengantar tim Zakspeed pamit dari F1 dan Yamaha pun perlahan-lahan undur diri dari arena di tahun 1990 sambil menyiapkan strategi baru dibawah pimpinan Takaaki Kimura untuk musim 1991 -sebuah mesin V12 baru yang dinamai OX99-. Aliansi baru pun dibentuk Yamaha dengan tim Brabham dengan mengetes mesin lawas dan mesin baru di atas mobil Brabham BT58Y di bulan Juli 1990.

Koalisi Brabham dan Yamaha di musim 1991 membuahkan paket mobil yang cukup sensitif yaitu BT59. Kedua pembalapnya yaitu Martin Brundle dan Mark Blundell mampu membawa koalisi ini meraih poin. Namun dengan keadaan tim Brabham saat itu yang kesulitan keuangan, Yamaha berpikir lagi untuk mencari mitra baru untuk 1992. Alih-alih mereka mendapat mitra yang bisa bantu kembangkan mesin, mereka masuk menjadi pemasok mesin gratis untuk tim Jordan. Konon Bernie Ecclestone turut berperan disini. Selama 1992 penampilan Jordan Yamaha lebih banyak diisi kekecewaan dan hanya mampu meraih poin di lomba penutup musim di Australia. Di sisi lain perbedaan kualitas mesin V12 dan V10 menjadi nyata saat itu dan memberikan bukti bagi semua tim F1 bahwa mesin V10 lebih cocok untuk lomba ketimbang V12 dimana Yamaha memilih bertahan di V12. Sebelum musim berakhir pun Jordan sudah menyatakan cukup dengan mesin Yamaha dan mereka beralih ke pabrikan Hart untuk 1993.

Bolehlah kita sebut kerjasama dengan Jordan sebagai sebuah kekecewaan besar bagi Yamaha, namun berkat Jordan pula Yamaha bisa berhubungan dengan rumah produksi mesin Judd. Di tahun 1990 Judd membangun dan meriset mesin V10 yang kemudian digunakan tim papan bawah Scuderia Italia di 1991 dan Brabham di 1992 meskipun tidak ada hasil yang memuaskan yang diraih sehubungan dengan kedua tim yang kesulitan keuangan. Namun disisi lain pengalaman Judd membangun mesin V10 nampaknya sudah cukup membuat pihak Yamaha percaya bahwa kerjasama dengan Judd bisa jadi modal awal demi menatap mesin V10 yang mereka harapkan.

Pada akhirnya lahirlah mesin V10 Yamaha OX10A yang sangat identik dengan mesin Judd GV V10. Kedua mesin sama persis setiap bagianya dengan hanya berbeda tinggi sekitar 3 mm. Pengamat dan fans pun langsung menyebut mesin V10 Yamaha sebagai mesin Judd yang bertopeng. Mesin tersebut lantas dipakai oleh tim Tyrrell, tim mitra baru Yamaha usai mereka berpisah dengan Jordan. Kerjasama dengan Tyrrell berlangsung selama dua musim dari 1993 sampai 1994. Di musim 1993 koalisi Tyrrell Yamaha gagal mencetak satu poin pun namun di musim 1994 mereka bisa mencetak satu kali podium lewat finis ketiga Mark Brundell di GP Spanyol. Di bulan September Yamaha mengumumkan perpanjangan kontrak dengan Tyrrell sampai musim 1996. Mika Salo menjadi satu-satunya pembalap yang meraih poin untuk Tyrrell di 1995 dan 1996 dengan total 10 poin.

Untuk musim 1997 Yamaha berpindah dari tim Tyrrell (yang saat itu beralih memakai mesin Ford-Cosworth) ke tim Arrows pimpinan Tom Walkinshaw. Jauh sebelum musim dimulai, Arrows sudah melakukan gebrakan diantaranya mengontrak juara dunia 1996 Damon Hill dari tim Williams dan berani memasang target besar saat itu. Para insinyur Yamaha pun menyambut gaung tersebut dengan menyiapkan mesin V10 berkode OX11A dengan dimensi yang kecil dan berat yang jauh lebih ringan dari pabrikan-pabrikan lainnya. Selanjutnya harapan tinggalah harapan, aroma tidak kompetitif sudah mulai terlihat dari lomba pertama musim di Australia dengan Damon Hill yang gagal mengikuti start lomba (DNS). Serentetan hasil buruk harus diraih Hill dalam usahanya mempertahankan gelar dan ia baru bisa meraih poin di GP Inggris dengan susah payah saat finis di posisi 6. Hasil terbaik yang mungkin masih jadi hasil sakit baik bagi Damon Hill maupun Yamaha adalah di GP Hungaria. Ia meraih start ketiga dan saat lomba menyalip Michael Schumacher untuk kemudian memimpin jauh dengan jarak 35 detik. Ketika para punggawa tim Arrows dan Yamaha mulai berpikir bahwa inilah saat mereka untuk menang, kabar buruk pun datang. Dua lap sebelum finis mobil Hill mengalami masalah hidrolik dan tepat di lap terakhir ia disalip oleh Jacques Villeneuve (Williams Renault). Pupus sudah harapan Arrows dan Yamaha untuk bisa menang lomba. Sampai tim Arrows bangkrut di tahun 2002 mereka tidak pernah lagi mendapat kesempatan (nyaris) menang lomba.

Yamaha keluar dari F1 di akhir 1997 setelah Tom Walkinshaw memutuskan membeli rumah produksi mesin Hart dan setelahnya mereka tidak pernah bermain kembali di ajang roda empat ini.

Jadi mengapa Yamaha gagal di F1 meskipun mereka terbilang cukup sukses dan punya sejarah besar di balap MotoGP atau dulu GP500 dengan nama-nama legenda seperti Kenny Roberts (1978-79-80), Eddie Lawson (1984-86-88-89) dan Wayne Rainey (1990-91-92)? Ada sebagian pihak yang berujar bahwa Yamaha berada di F1 semata-mata untuk membantu Toyota yang saat itu juga membidik ajang F1 (mereka mengumumkan masuk F1 di akhir 1999 dan berlaga dari tahun 2002 sampai 2009). Toyota menjadi salah satu klien penting Yamaha dalam hal pengembangan teknologi mesin. Meski demikian Yamaha membantah hal ini dan menegaskan mereka menjajal F1 demi riset dan pengembangan untuk teknologi masa depan.

Terkait riset dan pengembangan untuk masa depan ini nampaknya sudah menjadi sebuah doktrin utama untuk Yamaha jika melihat awal sejarah perusahaan mereka yang bermula sebagai produsen organ dan piano. Pendiri Yamaha pun (Torakusu Yamaha) adalah seorang pembuat jam tangan saat ia mendirikan perusahaan ini. Dari piano tersebut ia lantas melebakan sayap ke produksi barang-barang dari kayu dan kemudian menjadi produsen utama baling-baling kayu untuk pesawat kecil di Jepang.

Ketika Yamaha diambil alih Genichi Kawakami pada 1950, Yamaha kemudian berkembang lebih luas lagi menjadi produsen sepeda motor dengan produksi awal pada 1954. Dari sini doktrin riset untuk mengembangkan teknologi baru ala Yamaha dibangun. Terkait keikutsertaan di olahraga, salah satu petinggi Yamaha yaitu Takehiko Hasegawa menyatakan bahwa Yamaha selalu ingin bersaing di puncak kompetisi olahraga apapun bentuknya dari mulai balap motor, powerboat sampai ke rugby dan sepakbola, termasuk juga balap F1 sebagai balap mobil terpopuler di dunia yang bisa membantu Yamaha mengembangkan teknologinya.

Kegagalan Yamaha di F1 juga bukan karena faktor dana, setidaknya menurut salah satu petingginya saat itu Yoshiaki Takeda. Yamaha di dekade 1990-an memiliki beberaoa klien pabrikan mobil seperti Toyota, Ford AS dan Ford Eropa (meskipun Ford saat itu memiliki rumah produksi mesin balap sendiri yaitu Cosworth) menggunakan ajang F1 sebagai tempat untuk meriset teknologi-teknologi baru mereka sebelum diaplikasikan di mobil jalan raya biasa. Yamaha lantas menjadikan hal tersebut sebagai tantangan dan kesempatan untuk bisa melangkah lebih jauh di bisnis riset mesin. Uang pun mengalir dari dua pabrikan mobil besar tersebut.

Sayangnya dalam hal pengembangan mesin F1 yang dijalani Yamaha seakan berjalan keliru. Contohya ketika Yamaha bekerjasama dengan Judd mereka menyediakan mesin gratis bagi siapapun yang tertarik dan tim Tyrrell yang saat itu memakainya. Ada uang ada barang dan ada kualitas, gratis berarti harus menerima apa adanya tanpa bisa protes, Tyrrell sempat melakukan pembicaraan dengan Mugen Honda (catatan: Mugen adalah rumah modifikasi mesin Honda) soal peluang pasokan mesin yang lebih kompetitif tapi terkendala oleh mahalnya harga kontrak tahunan mereka.

Ada juga yang bilang Yamaha tidak memahami politik di F1 yang terlihat dari mereka yang hobi ganti-ganti tim mitra dan hampir semua tim yang bermitra dengan Yamaha adalah tim-tim semenanja atau underdog. Yamaha sempat memiliki sosok Herbie Blash (yang kita kenal di era saat ini sebagai petinggi senior FIA) di 1992 yang kenyang dengan perpolitikan di F1. Melalui dirinya, Yamaha bisa mencapat kestabilan lewat deal bersama Tyrrell sekaligus mengunci kemitraan teknis bersama Judd. Saat Yamaha masuk ke Arrows pada 1997 mereka juga sebetulnya bekerjasama dengan orang tepat yaitu Tom Walkinshaw namun mungkin karena hasil yang kurang memuaskan sekalipun nyaris menang di Hungaria membuat Walkinshaw berpikir dua kali soal masa depan kemitraannya tersebut.

Dirangkum dari berbagai sumber diantaranya GrandPrix.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Formula 1, MotoGP, Motorsport dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.