Proyek Isuzu F1 – Layu Dan Mati Sebelum Berkembang

Mesin F1 Isuzu V12 di kantor pusat Tamiya, Jepang

Mesin F1 Isuzu V12 di kantor pusat Tamiya, Jepang

Isuzu, rajanya diesel! Itulah slogan yang kita kenal saat ini dari pabrikan Jepang tersebut dengan spesialisasi di mesin diesel untuk kendaraan produksi mereka baik itu di kategori penumpang ataupun niaga seperti truk. Pabrikan Jepang ini juga dikenal nyaris tidak pernah ikut serta dalam dunia balap mobil. Meskipun begitu setidaknya dulu di awal 1990-an mereka nyaris turun di arena F1 sebelum proyeknya layu dan mati sebelum benar-benar turun di arena balap yang sesungguhnya.

Rencana keikutsertaan Isuzu di arena F1 berasal dari manajemen mereka. General Motors (GM) memiliki saham Isuzu sejak dekade 1970-an bersama dengan merek-merek mobil lainnya seperti Vauxhall, Opel, Holden dan Lotus. Untuk kasus Lotus, pihak intern Lotus ‘terpaksa’ menjual sebagian saham mereka ke GM setelah kematian Colin Chapman yang membuat krisis keuangan di internal Lotus. GM lantas mengakusisi saham mayoritas Lotus di akhir dekade 1980-an dan dari sini hubungan antara Isuzu dan Lotus dimulai dengan beberapa pengembangan teknologi yang saling berbagi antar kedua perusahaa, termasuk juga soal kans kerjasama keduanya di ajang F1.

Memasuki awal 1990-an, tim Lotus di arena F1 yang dulunya dikenal sebagai tim papan atas kini berubah status menjadi tim papan tengah dan bahkan sudah mulai masuk ke papan bawah. Di musim 1990 dengan memakai mesin Lamborghini yang berat dan kurang reliabel, tim Lotus hanya mampu meraih 3 poin sepanjang musim dengan deretan hasil gagal lolos di babak kualifikasi.

Pada musim 1991, Lotus memasang duet pembalap Inggris Johnny Herbert dan Mika Hakkinen (yang kelak akan jadi juara dunia). Tidak ingin musim buruk 1990 terulang, Lotus melakukan segala hal demi bisa mengembalikan sisi kompetitif mereka termasuk mencari pemasok mesin baru. Mereka lantas mendekati Honda tapi gagal mencapai kesepakatan dan pada akhirnya mereka memiliki ide untuk mengadakan kerjasama dengan Isuzu untuk membuat sekaligus meriset mesin mobil F1. Bagi Isuzu sendiri saat itu mereka sudah pernah memiliki pengalaman membangun mesin V dengan konfigurasi 8 silinder dan begitu peluang kerjasama Lotus dan Isuzu terbuka, pihak internal Isuzu menyiapkan tim berjumlah empat orang untuk membangun mesin V lainnya yang memenuhi regulasi F1.

Mesin F1 rahasia yang dirancang Isuzu dinamai sebagai mesin P799WE. Mesin ini memiliki konfigurasi V12 dengan kapasitas 3,5 liter dan diklaim bisa mengeluarkan tenaga sampai 640 hp saat tes dyno perdananya. Isuzu lantas mengemas mesin ini dan mengirimkannya ke Silverstone untuk di tes di arena sesungguhnya di mobil Lotus 102. Bukan hal mudah bagi Lotus dalam tes perdana mesin ini karena sasis 102 mereka didesain untuk mesin besar Lamborghini. Beberapa perubahan dilakukan saat tes perdana mesin ini agar ngepas dengan sasis yang pada ujungnya membuat pemampilannya di trek menjadi terbatas dan tidak bisa maksimal termasuk pemasangan baterai tambahan seberat 80 kg karena di sasis 102 tidak memiliki alternatornya.

Tidak ada catatan waktu resmi yang didapat saat tes berlangsung saat itu meskipun dari internal tim mengatakan hasilnya belum terlalu bagus dan ketinggalan 5 detik dari sesama tim papan bawah Leyton House. Manajer tim Peter Collins seusai tes memberikan konfirmasi resmi soal kemungkinan kerjasama Isuzu untuk jadi pemasok mesin Lotus. Meskipun hasil tes awal kurang memuaskan ditambah dengan sasis yang tidak cocok untuk unit mesin, Lotus puas dengan penampilan perdana mesin Isuzu.

Sayangnya di lain tempat saat itu manajemen Isuzu sedang mempertimbangkan arah bisnis mereka kedepannya termasuk opsi mundur dari bisnis mobil jalan raya bermesin normal dan memfokuskan diri sebagai produsen mesin diesel untuk mobil SUV penumpang dan mobil-mobil niaga seperti pickup dan truk. Opsi ini akhirnya diambil oleh manajemen dan tentu saja berlawanan arus dengan proyek mesin F1 mereka saat itu.

Pada akhirnya Isuzu menghentikan proyek mesin F1. Empat orang insinyur misterius yang membangun mesin F1 Isuzu hengkang ke tim F1 lain. Satu unit mesin V12 P799WE kini terpajang di kantor pusat Tamiya di Jepang karena pada awal dekade 1990-an Tamiya menjadi salah satu sponsor tim Lotus di arena F1.

Banyak yang menilai andai saja Isuzu tetap melanjutkan proyek mesin F1 mereka, kemungkinan untuk sukses walaupun kecil terbuka melihat riset internal mereka terhadap mesin F1. Sayangnya Isuzu seakan melakukan riset di waktu yang salah.

Disadur dari berbagai sumber…

Pos ini dipublikasikan di Formula 1, Motorsport dan tag , , , , , , . Tandai permalink.