Subaru F1 – Mimpi Ambisius Yang Menjadi Mimpi Buruk

Minardi Subaru M188

Menyebut nama Subaru di dunia balapan tentu tidak akan jauh dari ajang Reli Dunia alias WRC. Mereka memiliki catatan rapor yang bagus di ajang tersebut dengan tiga gelar pembalap (1995, 2001 dan 2003) serta tiga gelar pabrikan (1995, 1996 dan 1997). Mereka memiliki 47 kemenangan reli, disumbangkan oleh para pereli ternama sebut saja Colin McRae, Carlos Sainz Sr., Richard Burns, Tommi Makinen dan Petter Solberg. Secara garis besar mobil biru Impreza akan selalu dikenang penggemar otomotif sebagai salah satu yang terbaik di dunia reli.

Tapi tahukah Anda, beberapa tahun sebelum Subaru sukses di ajang reli, mereka juga pernah menjajal ajang Formula Satu dalam jangka waktu pendek dengan hasil yang secara jujur amat mengecewakan? Amat kontras dengan hasil mereka di WRC, partisipasi Subaru di F1 benar-benar mimpi buruk. Bahkan jika menyebut nama Subaru F1 para netizen fans F1 senior di seluruh dunia akan langsung mengarah ke kata ‘buruk’ atau ‘jelek’.

Keikutsertaan Subaru di F1 terinspirasi dari kesuksesan Honda yang di dekade 1980-an sampai awal 1990-an mendominasi bersama Williams (1987) dan McLaren (1988-1992). Saat itu para petinggi Subaru memutuskan terjun ke arena F1 tetapi dengan filosofi yang sudah jadi standar perusahaan yaitu mesin flat yang juga dipakai di mobil versi jalan raya Subaru. Sampai saat ini pun (2016 saat tulisan dibuat) Subaru masih bertahan dengan filosofi tersebut.

Subaru mulai serius menggarap proyek F1 sejak pertengahan 1988. Alih-alih mengembangkan mesin secara intern alias in-house, mereka coba mengontak pihak di F1 yang bersedia membangun unit mesin. Datanglah mereka pada insinyur teknik mesin Italia Carlo Chiti yang memiliki perusahaan perakitan mesin balap Motori Moderni. Subaru lantas setuju mengadakan deal untuk membangun sebuah mesin flat sesuai dengan rencana yang mereka inginkan. Dalam waktu singkat Subaru sukses mendapatkan apa yang mereka rencanakan: sebuah mesin flat boxer 12 silinder, 3,5 liter dengan kode awal F12 yang kemudian diresmikan sebagai mesin 1235. Mesin ini memiliki berat sampai 112 kg yang secara standar F1 mesin seberat itu terlalu gemuk dan akan berpengaruh pada penampilan di trek.

Sayangnya penggunaan mesin flat di F1 sudah dianggap usang dan tidak layak secara standar. Mesin jenis ini terakhir terlibat di F1 di dekade 1970-an dan seiring pengembangan aerodinamika mobil penggunaan mesin jenis ini semakin berkurang dan akhirnya hilang dengan datangnya jenis mesin lain yang mendukung aerodimanika. Hebatnya hal tersebut tidak menggoyahkan Subaru dengan proyek F1 ambisiusnya. Setelah mesin flat 12 silinder dibangun mereka mencari tim yang bersedia mengetes mesin tersebut.

Hanya satu tim yang bersedia mengetes mesin Subaru yaitu Minardi karena secara kebetulan juga di musim 1985 sampai 1987 tim Italia tersebut memakai mesin yang dibangun oleh Motori Moderni. Pierlugi Martini, Gianni Morbidelli dan Paolo Barilla bergantian menjajal mesin Subaru di mobil Minardi M188 di Misano. Awalnya tes mulus namun baru menjalani 6 lap mesin mengalami masalah teknis yang terus menerus berlanjut setiap kali dites meskipun telah dilakukan beragam perbaikan. Konon salah satu penyebabnya adalah karena bobot mesin yang terlalu berat.

Minardi lantas menyerah dengan beragam kegagalan tes mesin Subaru selama periode berjalan 1989 dan tidak tertarik memakainya. Lantas pada akhir 1989 Subaru yang seharusnya bisa membaca arah bisnis mahalnya ini tetap ambisius melanjutkan proyeknya. Pada akhirnya mereka membeli kepemilikan saham di tim Coloni dan menyulapnya jadi tim Coloni Subaru untuk musim 1990 dengan Bertrand Gachot dari Belgia di kursi pembalapnya.

Coloni Subaru

Coloni Subaru

Musim 1990 dimulai, apa yang dikhawatirkan oleh Minardi sejak jauh-jauh hari perlahan tapi pasti menjadi nyata. Di lomba perdana musim 1990 di Phoenix, mobil Coloni Subaru hanya bisa melaju sepanjang 250 meter setelah keluar dari pitlane dengan kerusakan girboks. Usai kejadian tersebut barulah manajemen Subaru menyadari kesalahan filosofi mereka selama ini dan meminta Carlo Chiti merancang mesin V12 konvensional untuk musim selanjutnya tapi sayangnya itu sudah terlambat.

Lanjut ke GP Brasil, mobil Coloni Subaru ada sedikit kemajuan dengan mampu melahap beberapa lap namun secara catatan waktyu prakualifikasi mobil ini lebih lambat 10 detik dari catatan waktu batas aman dan akhirnya tidak lolos untuk mengikuti kualifikasi. Mimpi buruk serupa dilanjutkan di Monako (lebih lambat 18 detik), Kanada (24 detik).

Disaat yang bersamaan juga manajemen Subaru sudah gerah melihat penampilan tim mereka yang gagal total. Subaru lantas memecat Enzo Coloni sebagai prinsipal tim dan mereka ambil alih tim itu menjadi 100% kepemilikan dengan harapan bisa memperbaiki keadaan. Carlo Chiti sebenarnya sudah menyiapkan unit mesin V12 di tengah musim, namun Subaru yang nampak sudah kecewa dan putus asa mencoba menghubungi beberapa pabrikan mesin independen lainnya. Kabarnya saat itu mereka sudah menghubungi Judd untuk mesin musim 1991.

Saat prakualifikasi di Perancis, mobil Coloni Subaru yang dikendarai Bertrand Gachot kembali mencatat ‘prestasi’ yang lebih buruk dari lomba-lomba sebelumnya. Untuk mencapai satu lap di Sirkuit Paul Ricard, Gachot harus memakan waktu 14 menit dan 2 detik dengan masalah lubang di casing mesinnya. Selanjutnya di Silverstone mesin Subaru mengalami masalah serius di 8 dari 12 silindernya, sebuah hasil yang pada akhirnya mengakhiri kiprah Subaru di F1.

Mulai GP Jerman di bulan Juli, Subaru akhirnya memutuskan cabut dari F1. Mereka menjual kembali kepemilikan tim kepada Enzo Coloni dan seluruh hutang tim dibayarkan cuma-cuma oleh Subaru. Coloni lantas berhasil mendapat deal mesin Ford meskipun hasil yang ia raih sampai akhir musim bersama tim Coloni tidak jauh berbeda dengan saat memakai mesin Subaru.

Sebuah proyek ambisius yang pada akhirnya jadi sebuah bencana besar. Banyak fans F1 yang berujar kemungkinan Subaru akan mendapat hasil yang lebih baik apabila mereka mengembangkan mesinnya secara intern tanpa melibatkan pihak lainnya dan bisa jadi dengan mempelajari dan membangun mesin secara in-house perusahaan, Subaru akan mengubah paradigma filosofi mereka soal mesin flat yang memang tidak cocok dipakai di F1 era saat itu.

Usai alami mimpi buruk di F1, Subaru akhirnya melirik dan mempertimbangkan ajang balapan lain yaitu di Reli Dunia (WRC) dengan turun penuh di musim 1993 dengan kerjasama bersama Prodrive dan dari sini sejarah manis mereka dimulai sekaligus melupakan dan mengubur dalam-dalam kenangan buruk yang pernah mereka alami di F1.

Disadur dari berbagai sumber…

Pos ini dipublikasikan di Formula 1, Motorsport dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.