Glasgow Celtic dan Palestina

Palestina dan Israel

Palestina dan Israel

Kalau bukan karena berita mengenai Glasgow Celtic yang di denda oleh UEFA karena para pendukungnya membawa serta mengibarkan bendera Palestina saat mereka melawan klub dari Israel di penyisihan Liga Champions beberapa waktu lalu mungkin kami tidak akan menulis sebuah ‘curhat’ ini. Memang sih denda itu sudah benar, dalam artian sudah sepatutnya sepakbola atau olahraga jauh dari unsur politik. Tapi di sisi lain denda tersebut seolah menjadi standar ganda tersendiri bagi UEFA.

Kita tahu, Tottenham Hotspurs dan AFC Ajax Amsterdam juga merupakan dua klub besar di Eropa. Kita tahu kedua klub tersebut dari sejarah yang bisa dengan mudah kita Google atau Wiki di internet merupakan klub yang di dukung oleh fans Yahudi. Bahkan sering kita lihat di layar TV beberapa supporter ada yang mengibarkan bendera Israel di tribun. Bagi penduduk kota Glasgow sendiri masih ada rival abadi Celtic yaitu Rangers yang konon juga dekat dengan fans dari kaum Yahudi. Tapi kenapa UEFA seolah tidak atau dingin menanggapi spanduk dan bendera yang pro Israel tersebut? OK kita tidak akan bahas hal itu karena akan jadi debat kusir panjang.

Kembali ke topik awal, kedekatan Glasgow Celtic dan Palestina. Dari kapan mereka memulai hal tersebut? Semuanya berawal dari sejarah pendirian klub Celtic sendiri. Celtic Football Club yang dibentuk pada tahun 1887 oleh Bruder Walfrid, seorang romo Katolik, dalam rangka untuk menghasilkan pendapatan untuk memberi makan penduduk imigran asal Irlandia di Glasgow dan mengurangi kemiskinan. Sistem ini lantas menjadi sebuah kebanggan dan tumpuan harapan tidak hanya bagi imigran Irlandia tetapi juga bagi pribumi Skotlandia yang miskin. Sehingga pada akhirnya keberadaan klub sepakbola Celtic mampu menyatukan perbedaan antara Irlandia dan Skotlandia terutama bagi sesama pemeluk Katolik.

Bagi fans Celtic, bendera Palestina yang selalu mereka bawa saat Celtic bertanding di kandang sebetulnya bukan hal baru. Pendukung telah menunjukkan solidaritas dengan rakyat Palestina dengan beberapa hal yang bisa diingat yaitu lencana, kafiyeh dan sekarang bendera. Dengan tiga elemen tersebut, fans Celtic tidak membedakan mana Hamas dan mana Fattah. Yang mereka inginkan dan harapkan adalah solidaritas kebersamaan dan persatuan demi Palestina.

Di masa lampau fans Celtic juga telah menunjukkan solidaritas dengan rakyat tertindas dari Afrika Selatan di bawah apartheid, orang-orang Basque yang mencari kemerdekaan dari Spanyol dan karena warisan budaya klub, penindasan dan penganiayaan nasionalis di Irlandia Utara. Mayoritas daerah ini yang mengalami konflik telah diselesaikan secara kekeluargaan. Dan kini tersisa Palestina yang memang sepertinya amat rumit untuk diselesaikan.

Apakah Celtic anti Semit dan anti Israel sepenuhnya? Tidak. Ada sebagian fans yang dari golongan pendukung kecil yang mendukung Israel dan Zionis dan tentu para fans mayoritas Celtic yang pro Palestina tidak bisa memaksa mereka untuk satu suara karena elemen persatuan dan kebersamaan yang merupakan warisan klub. Di masa lampau saja mayoritas fans Celtic yang mainstream masih memberikan toleransi kepada mereka yang fasis, ekstrimis dan radikal.

Saat Celtic hadapi klub Israel di Liga Champions yang diiringi bendera Palestina, salah satu pendukungnya berujar hal tersebut murni dilakukan karena suara hati. Mereka melihat Israel bisa bebas di dunia olahraga tetapi sebaliknya Palestina seperti dikucilkan dan dibatasi. Dengan prinsip sepakbola yang seharusnya tanpa perbedaan dan mampu menyatukan semua, di mata fans Celtic, harusnya Palestina juga mendapat kesempatan yang seimbang dan sama persis dengan Israel.

Dengan aksi bendera Palestina di stadion, para fans Celtic ingin meningkatkan kesadaran pada masyarakat di dunia. Protes tersebut juga merupakan hak bagi para suporter sebagai warga negara. Kesadaran yang dimaksud adalah membela nilai-nilai kemanusiaan. Bagi fans Celtic perang Palestina-Israel melibatkan banyak orang, bahkan anak-anak. Bahkan sudah jauh melebar ke arah olahraga dengan serangkaian pembatasan yang terjadi di Palestina yang tentunya tidak bisa diterima oleh fans.

Dirangkum dan disadur dari berbagai sumber…

Pos ini dipublikasikan di Sepakbola dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.