Ulasan: James Bond 007 – Spectre (2015)

Poster film

Poster film

‘SPECTRE’ adalah film yang tak bisa dibilang buruk dalam konteks pembuatan, mencoba memuaskan fans lama sekaligus fans baru era Daniel Craig, namun menjadi mengecewakan karena ikatan emosional dan sensasi ketegangan yang coba disuguhkan nyaris nihil.

Bisa jadi ekspektasi berlebihan akan melukai SPECTRE, begitulah pikir saya saat duduk di bioskop sebelum film bergulir. Meski tak sepenuhnya orisinal, Skyfall telah memberikan standar yang cukup tinggi: mendapat nominasi Oscar, sukses secara kritikal, dan meledak di box office. Ditambah dengan fakta bahwa film kedua-puluh-empatnya ini menghadirkan SPECTRE (Special Executive for Counter-Intelligence, Terrorism, Revenge and Exortion), organisasi misterius jahat yang pernah muncul dalam 6 film Bond sebelumnya, terakhir kali dalam Diamonds are Forever pada 1971, tak bisa disalahkan jika antisipasi penonton selangit.

Sempat dikritisi menjauhkan diri dari konsep Bond klasik (walau sebenarnya bukanlah hal buruk), Sam Mendes bersama dengan rekan-rekan penulis naskahnya mungkin bermaksud untuk mengangkat kembali elemen-elemen khas Bond dengan memberikan sentuhan tribut pada film-film terdahulu. Namun tujuan kita ke bioskop tentu saja untuk mendapatkan pengalaman sinematis dan bukannya menyaksikan kumpulan trivia. SPECTRE adalah film yang tak bisa dibilang buruk dalam konteks pembuatan, mencoba memuaskan fans lama (era Sean Connery atau Roger Moore, mungkin) sekaligus fans baru era Daniel Craig, namun menjadi mengecewakan karena ikatan emosional dan sensasi ketegangan yang coba disuguhkan nyaris nihil.

Sebenarnya film dimulai dengan begitu bagus. Mengambil setting saat festival Hari Orang-orang Mati di Meksiko, kamera menyorot pria berkuncir dengan jas putih di tengah keramaian. Tanpa terputus (hingga lebih kurang 5 menit kemudian), sorotan berpindah pada pria lain yang bertopeng tengkorak dan tengah menggandeng seorang wanita. Keduanya menuju sebuah hotel, naik lift, masuk kamar, dan tampaknya akan berbuat yang “iya-iya”. Namun sang pria yang ternyata adalah Bond (Craig) punya rencana lain. Dia bergerak ke atap dan meledakkan gedung di sebelahnya untuk mencegah aksi terorisme. Pria berkuncir berhasil lolos, yang mengantarkan kita pada adegan adu jotos spektakuler di atas helikopter yang berakrobat di udara.

Setelah lagu tema Sam Smith Writing’s On the Wall (yang menampilkan wanita dan tentakel, if you know what i mean) berakhir , film ini masuk ke setting yang lebih konvensional. M baru (Ralph Fiennes) yang menggantikan posisi M lama (Judi Dench) memberi skors pada Bond. Tentu saja, ini tak menghentikannya untuk menyelesaikan misi rahasia yang ditinggalkan M lama yang membawa karakter utama kita pada sebuah organisasi misterius bernama SPECTRE yang dipimpin oleh tokoh (yang juga) misterius, Franz Oberhauser (Christopher Waltz) serta masa lalu Bond sendiri.

Mekanisme narasinya sederhana. Produser dan penulis naskah ingin menyatukan semua cerita dari Casino Royale, Quantum of Solace serta Skyfall yang memasuki momen klimaks pada SPECTRE. Petunjuk awal diberikan oleh Mr. White, antagonis yang muncul dalam Royale dan Solace. Kita juga bisa mengintip sekilas bagaimana peran Le Chiffre dan Silva dalam organisasi jahat berlambang gurita ini.

Seperti yang saya bilang tadi, film ini terlihat sebagai tribut bagi Bond klasik karena memang menampilkan berbagai macam elemen ikonik Bond. Tak hanya beberapa adegan yang mengacu pada beberapa film sebelumnya, mobil mewah dan peralatan canggih kembali dipergunakan. Mendes tampaknya menyadari keharusan untuk menyajikan aksi yang lebih spektakuler dibanding Skyfall dan dalam konteks ini, Mendes menanganinya dengan baik. Menyusul sekuen pembuka di Meksiko, Bond yang bertualang ke Austria, Roma, dan Maroko terlibat dalam aksi menantang maut seperti kejar-kejaran mobil super di jalanan kota Roma atau pegunungan bersalju, hingga adu jotos di kereta api melawan tangan kanan Oberhauser, Mr. Hinx (Dave Bautista). Hinx mengingatkan kita pada era Bond saat antagonisnya punya tangan kanan tangguh seperti Oddjob atau Jaws dan pemilihan Bautista tentu tak mengecewakan.

Dibuat dengan bujet mencapai seperempat miliar dolar, tak ada yang salah secara teknis dengan SPECTRE. Walau tak sesuperior Roger Deakins, sinematografi Hoyte van Hoytema juga tak kalah bagusnya, terlebih saat kejar-kejaran mobil super dengan pengambilan gambar yang dinamis dan kontras yang menawan, meski sedikit mencurigakan saat jalanan Roma terlihat sangat sangat sangat sepi. Pun begitu dengan scoring Thomas Newman yang menangkap dengan baik energi dari Bond sejak ditinggalkan komposer John Barry.

Permasalahan utama dari SPECTRE adalah skripnya. Filmnya terlalu panjang dengan plot yang sumpek, paruh kedua yang bertele-tele serta karakterisasi yang tak meyakinkan. Karakter C (Andrew Scott) yang ingin melakukan merger MI5 dengan MI6 dan menciptakan organisasi yang memayungi agensi rahasia internasional memang relevan, namun campur tangan M yang mungkin dimaksudkan untuk mengembangkan porsi perannya, terasa dipaksakan dan tak natural. Apapun yang ingin ditawarkan SPECTRE, menguap sejak awal saat dialog-dialog membosankan dan lelucon (yang sebenarnya tak begitu lucu) disodorkan.

Keberadaan Madeleine (Lea Seydoux) tak hanya dimaksudkan menjadi Bond girl namun juga love interest seperti halnya Vesper, namun pembangunan chemistry-nya tak setara dibanding Royale dan terasa janggal saat dia sekonyong-konyong mengucapkan “I love you” di adegan puncak. Paling tidak nasibnya lebih baik dibanding Monica Belucci yang hanya tampil dalam dua scene singkat. Waltz memberikan penampilan yang (lagi-lagi) sama. Perannya sebagai antagonis terasa kurang signifikan dan saya berharap dia akan jauh lebih sadis atau lebih lihai dalam sebuah pengungkapan plot twist yang sebenarnya tak begitu mengejutkan.

Jika anda merasa perlu diingatkan lagi dengan Quantum of Solace yang tak berkesan (dan kemungkinan besar sudah anda lupakan), SPECTRE mungkin akan membangkitkan kembali bagaimana pengalaman tersebut. Tak buruk namun forgettable. Semisalnya kualitas film Bond era Craig mengikuti pola tertentu (bagus – medioker – bagus – [?]), berarti kita akan mendapatkan film bagus dalam instalasi berikutnya. Semoga…

Daftar kru yang terlibat:
Pemeran: Daniel Craig, Christoph Waltz, Ralph Fiennes, Naomie Harris, Dave Bautista, Monica Bellucci, Léa Seydoux
Sutradara: Sam Mendes
Skenario: John Logan, Neal Purvis dan Robert Wade
Sinematografi: Hoyte van Hoytema
Musik: Thomas Newman
Distributor: Columbia Pictures

Oleh: Teguh Raspati
Sumber asli tulisan: klik disini

Pos ini dipublikasikan di James Bond, Umum dan tag , , , , . Tandai permalink.