Serba Serbi Nomor Atlet, Pensiunkan Atau Tidak?

Jules Bianchi

FIA memutuskan untuk memensiunkan nomor #17 yang terakhir dipakai Jules Bianchi dari ajang F1 dengan alasan utama untuk menghormati pembalap yang meninggal dunia akibat cedera tersebut. Sebagian fans ada yang setuju dan sebagian lagi ada yang tidak.

Secara objektif, sebenarnya tidak ada syarat baku soal bagaimana sebuah nomor dipensiunkan. Kebanyakan nomor dipensiunkan lebih karena faktor emosional, misalnya karena orang yang pakai nomor tersebut meninggal dunia karena suatu sebab, seperti contoh kasus Bianchi tadi. Sebagian lagi ada yang memakai faktor historis dan kontribusi seorang atlet sebagai dasar pemensiunan nomor, misal seperti nomor #10 untuk Diego Maradona di Napoli atau #45 untuk pebasket Michael Jordan.

Dari dua faktor diatas yang paling banyak dipakai adalah faktor emosional, misal kematian Daijiro Kato dan Marco Simoncelli yang membuat FIM langsung memensiunkan nomor #74 dan #58. Atau gerakan fans NASCAR yang meminta nomor #3 dipensiunkan untuk hormati Dale Earnhardt Sr. sekalipun keluarga Dale Sr. tidak meminta pemensiunan nomor tersebut, bahkan saat nomor #3 kembali dipakai Austin Dillon sejak 2014 lalu, keluarga Dale Sr. menyatakan terbuka dan silakan saja jika nomor #3 mau dipakai lagi.

Beberapa atlet ada juga yang malah menyarankan agar nomor yang identik dengan dirinya agar jangan dipensiunkan, seperti contoh Jeff Gordon dengan #24 atau Ryan Giggs dengan #11. Ada juga atlet yang meminta agar nomornya dipensiunkan dulu dan baru dipakai lagi jika kelak anaknya bisa masuk tim/klub yang sama seperti ayahnya, untuk kasus ini adalah Paolo Maldini dan anak-anaknya di AC Milan.

Saat ini ada beberapa nomor legendaris yang aktif di ajang balapan, misal #46 milik Valentino Rossi atau #48 milik Jimmie Johnson. Jelas fans nantinya akan melobi badan yang mengatur olahraga tersebut agar kedua nomor itu dipensiunkan. Tapi bagaimana jika misalnya nanti Rossi punya anak dan balapan di MotoGP? Apakah Rossi yang nanti akan lobi FIM agar nomor #46 dibolehkan dipakai lagi? Kita belum tahu kedepannya akan seperti apa jika misalnya nomor #46 dipensiunkan.

Sebagian pembalap ada yang merasa terhormat jika memakai nomor legendaris, misal Chris Vermeulen yang setia pakai #7 untuk hormati idolanya Barry Sheene atau Aric Almirola dengan #43 di NASCAR yang identik dengan Richard Petty.

Beberapa tim ada yang memiliki nomor keramat, salah satunya tim Petty tadi dengan #43. Ferrari di F1 juga identik dengan nomor #27 yang sempat mereka pakai lama di dekade 1980-an.

Secara aturan, penomoran mobil atau motor untuk ajang F1 dan MotoGP didasarkan pada selera pembalap, sementara di ajang NASCAR atau IndyCar nomor diberikan kepada tim, karena itu juga mengapa nomor #43 bisa tahan lama di tim Petty.

Kembali ke pembicaraan awal, seperti kata David Emmett (@motomatters) keputusan FIA memensiunkan nomor #17 terkesan terburu-buru. Pendapat sama juga diutarakan oleh Keith Collantine dari blog F1 Fanatic. Apalagi jika melihat data statistiknya, Jules Bianchi tidak punya catatan panjang dengan nomor #17. Nomor itu ia pilih karena nomor-nomor yang ia incar sebelumnya yaitu #7, #27 dan #77 sudah diambil pembalap lain. Nah disini ketemu titik terangnya bahwa Bianchi memilih nomor #17 sebagai nomor yang bisa dikatakan terpaksa.

Toh keputusan sekarang sudah final dan kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa, namun untuk kedepannya baiknya FIA tanyakan dulu pada keluarga pembalap yang memakai nomor dan juga kepada tim tempat si pembalap itu bergabung apakah nomor yang dipakai mau dipensiunkan atau tidak, sehingga para fans bisa mendapat keterangan yang jelas ketimbang diskusi debat kusir seperti saat ini.

Rest in peace, Jules…

Pos ini dipublikasikan di Formula 1, MotoGP, Motorsport, Sepakbola dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.