In Memoriam – Jules Bianchi (1989-2015)

In memoriam, Jules Bianchi

Jules Bianchi ibarat sebuah sosok pembaharu untuk F1, pembalap Perancis muda yang punya darah Italia dengan bakat yang bagus dan sebuah harapan bahwa satu hari nanti ia ingin bergabung dengan jajaran pembalap elit yang pernah merasakan kursi tim Ferrari.

Pemuda 25 tahun, yang sayangnya sekarang sudah dipanggil Tuhan akibat cedera parah yang dialami di GP Jepang 2014, muncul sebagai salah satu alumni akademi pembalap muda Ferrari -satunya lagi Sergio Perez tapi ia dilepas Ferrari karena dikabarkan agak arogan- dengan reputasi dan bukti memukau baik sebagai tester Ferrari ataupun saat ia disewakan sebagai tester ke Force India sebelum kemudian membalap penuh di F1 bersama Marussia.

Bianchi merupakan sosok populer di paddock, suka sepakbola dan dekat dengan seisi tim Ferrari yang jelas akan membuat mimpinya masuk tim itu mulus apalagi jika ia bisa mengambil hati keluarga Agnelli.

Sebelum ia alami musibah di Jepang 2014, Bianchi sudah berujar bahwa ia siap kapanpun jika diperlukan Ferrari untuk masuk ke tim utama. Rumor saat itu ia disiapkan untuk 2015 apabila Ferrari gagal meraih Sebastian Vettel untuk gantikan Fernando Alonso yang hengkang. Namun opsi yang paling pas adalah musim 2016 dimana ia akan gantikan Kimi Raikkonen. Selama musim 2015 rencananya tadinya Bianchi akan di didik lebih lanjut di tim Sauber, tim yang menjadi sekolah tidak resmi calon-calon pembalap Ferrari diantaranya Felipe Massa.

Bergabungnya Bianchi ke Marussia pada 2013 juga dalam detik-detik terakhir karena tadinya tim itu memilih sosok Luiz Razia untuk pembalap sebelum akhirnya kontrak Razia dibatalkan karena masalah keuangan. Bianchi juga nyaris membalap penuh untuk Force India pada 2012 sebelum kalah bersaing oleh Adrian Sutil yang lebih punya jam terbang tinggi

Didikan rendah hati dari tim papan bawah sekelas Marussia betul-betul mengasah mental dan bakat Bianchi terutama untuk hal berjuang sampai titik penghabisan walaupun berada di grid bawah. Sesuatu hal yang dulu juga pernah dialami teman dekatnya di F1 yaitu Fernando Alonso saat bergabung dengan Minardi. Alonso bahkan jadi orang yang paling bangga dengan raihan posisi kesembilan yang diraih Bianchi di GP Monako 2014.

Finis kesembilan di Monako 2014 yang diraih Bianchi berefek juga pada tim Marussia. Raihan dua poin klasemen membawa mereka meraih uang hadiah pembagian hak siar televisi dari Bernie Ecclestone sebesar 10 juta dolar. Tidak besar memang tapi cukup membantu kesehatan tim untuk bertahan di arena F1, terlebih pada akhir musim tim Marussia masuk ke pengawasan administrasi pengadilan bersama rekan papan bawahnya tim Caterham walaupun pada akhirnya Marussia bisa sukses keluar dan selamat sementara Caterham tidak.

Finis kesembilan di Monako memberikan semangat baru yang segar bagi Jules Bianchi dan keluarga meskipun mereka juga sadar dan selalu mewaspadai hal-hal lain yang amat mungkin bisa terjadi kedepannya yaitu risiko.

Bagi keluarga besar Bianchi, yang namanya risiko bukan hal asing lagi. Pada tahun 1969, paman-kakek Bianchi, Lucien -yang juga berlomba di F1- tewas di Le Mans dalam sesi latihan untuk lomba ketahanan Le Mans 24 Jam. Lucien yang sempat finis ketiga di GP Monako 1968 kehilangan kendali atas mobilnya saat itu dan menabrak tiang telegraf. Berikutnya ada Mauro Bianchi, kakek Jules yang lahir di Milan tapi bekewarganegaraan Belgia, yang mengalami luka bakar hebat di lomba Le Mans 1968.

Philippe Bianchi, anak Mauro yang juga ayah kandung Jules, tidak mengikuti ajang balap profesional tetapi dirinya lebih memilih balapan gokart disamping bekerja di bidang lain. Philippe berujar “sejarah masa lalu keluarganya membuatnya sedikit rumit karena ia tidak ingin kejadian tersebut terulang lagi”, katanya pada sebuah surat kabar Perancis pada 2014 silam.

Philippe juga berujar baginya ajang balapan serasa tabu saat ia masih kecil dan beranjak remaja. Ajang balapan baru ia rasakan lagi saat melihat Jules ikut lomba gokart. Ia pun jadi saksi kecelakaan pertama Jules di ajang gokart saat Jules baru berusia tiga tahun. Kemudian ia juga jadi saksi mata kecelakaan Jules di lomba F3 Inggris 2009 di Brands Hatch meskipun kemudian hal itu dianggap mereka berdua sebagai insiden normal dalam balapan.

Kini apa yang ditakutkan Philippe betulan terjadi, setelah kecelakaan di Jepang 2014 dimana Jules mengalami kecelakaan di Turn 7 saat bertabrakan dengan traktor dalam kecepatan tinggi yang kemudian membuatnya koma sampai akhirnya meninggal, Philippe sebetulnya sudah pesimis dan pasrah dengan apapun yang nantinya terjadi pada Jules meskipun ia menaruh optimisme pada tim dokter yang menangani anaknya.

Sumber terjemahan: http://www.stuff.co.nz

Pos ini dipublikasikan di Formula 1 dan tag , , . Tandai permalink.