Hak Siar Film di Televisi

James Bond, salah satu seri film terlaris

Tulisan ini kami tulis sebagai penjelasan lebih rinci dari status dan twit yang kami tuliskan di akun @RepublikF1 beberapa waktu yang lalu (sudah lama) mengenai hak siar film di televisi.

Film juga ada hak siarnya di TV? Iya ada, kata siapa film tidak ada hak siarnya untuk kategori televisi. Meskipun dalam versi kita film-film jadul era 1990-an atau yang lebih lama lagi terkesan film ‘sudah kuno’ tapi di dunia bisnis perfilman tetap saja film-film tersebut berharga baik untuk stasiun TV yang menyiarkan ataupun untuk distributor dan studio yang membuat/mengedarkan film tersebut.

OK, menurut penuturan salah seorang teman yang kebetulan kerja di sebuah TV swasta di Jakarta (sudah lama, sekitar tahun 2009, mungkin saat ini ia sudah beralih ke perusahaan lain), seluruh stasiun televisi free-to-air di Indonesia selalu mengikuti lelang atau bidding hak siar film untuk televisi. Prosesnya hampir mirip dengan bidding hak siar olahraga, ada yang langsung menawar ke studio pembuat film (direct) atau yang melalui pihak ketiga (indirect).

Biasanya film-film yang penghasilan box officenya meledak (alias laku keras) di pasaran harganya akan lebih mahal dari film-film lainnya. Selain itu juga ada penggolongan film, misalnya film yang termasuk elit (contoh James Bond, Harry Potter, dkk), film menengah (semacam Under Siege, Speed) dan film kelas bawah (film-film yang tidak tayang di bioskop namun tayang di TV saja atau lebih mudahnya FTV). Setiap golongan film tersebut memiliki harga yang berbeda dari ‘penjualnya’. Film-film yang termasuk baru (1-4 tahun dari penayangan di bioskop) harganya akan lebih mahal daripada film yang sudah lama (5-6 tahun kebawah), namun itu tidaklah mutlak, beberapa judul-judul film jadul yang terkenal seperti Titanic atau Independence Day atau film-film pertama dari Jaws, Terminator, dkk harganya terkadang lebih mahal dari film-film sekuelnya era saat ini (karena itu juga mengapa Jaws 1 atau Terminator 1 termasuk jarang tayang di TV kita).

Nah dalam pembelian hak siar tersebut juga ada perjanjian tayangnya. Film-film yang baru (1-4 tahun dari penayangan di bioskop) biasanya agak ribet dalam urusan perjanjian tayang di TV. Mereka biasanya hanya menawarkan tayang maksimal sampai 3 kali dalam kurun waktu x tahun (bisa setahun atau dua tahun) di stasiun TV yang membeli hak siarnya tersebut. Sementara film yang sudah agak lama (terkecuali film klasik yang hits semacam James Bond era Sean Connery) basis kontraknya ditawarkan pertahun bahkan ada yang tidak terhingga alias eksklusif milik stasiun TV, karena itu juga kita bisa melihat film seperti Titanic-nya James Cameron yang identik dengan MNC Group atau Spiderman versi Sam Raimi yang identik dengan Trans Corp. Mereka, dua grup televisi tersebut, bisa menayangkan film-film diatas secara eksklusif dalam waktu yang tidak terbatas karena mereka mengantungi hak siar eksklusif dari studio film yang bersangkutan

Lantas apakah bisa hak siar film yang eksklusif tersebut berpindah tangan ke TV lain? Bisa saja dengan catatan ada negoisasi ulang antara pihak-pihak yang terlibat. Misalnya TransTV (Trans Corp) ingin menyiarkan Independence Day, mereka harus menghubungi RCTI/GlobalTV (MNC) dan 20th Century Fox sebagai distributor film tersebut. Soal jadi pindah atau tidak itu tergantung pihak MNC apakah mereka mulai bosan menayangkan film tersebut atau tidak. Biasanya yang sering terjadi adalah grup TV saling melakukan barter hak siar terutama jika distributor filmnya sama atau grup TV tersebut menjual hak siarnya kepada grup TV saingannya, tentu hal ini harus disetujui oleh distributor film yang bersangkutan.

Apakah skema rumitnya hak siar film tersebut hanya untuk film Hollywood saja? Berdasarkan penuturan teman kami yang kerja di stasiun TV, skema diatas berlaku untuk semua film impor, tidak peduli film Hollywood, Bollywood, Eropa atau Oriental (Jepang, Korea dan China/Hongkong).

Bagaimana dengan film Indonesia? Untuk film lokal dalam negeri, prosesnya mirip tapi tidak serumit film impor. Pihak stasiun TV hanya mengadakan negoisasi pembelian hak siar dengan rumah produksi yang membuat film tersebut dan jadilah tayang (tentu setelah melalui pemeriksaan LSF). Bahkan hak siar film eksklusif akan lebih mudah didapatkan jika stasiun TV juga ikut menjadi media partner dalam produksi film, seperti contoh MNC atau dalam hal ini RCTI yang ikutan terlibat dalam produksi film Habibie dan Ainun (bisa kita lihat di closing credit film ada tulisan ucapan terima kasih untuk MNC).

Jadi sudah paham kan mengenai proses secara singkat soal pembelian hak siar film? Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semuanya.

Pos ini dipublikasikan di Berita, Umum dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.