Dilema Hak Siar Olahraga Untuk TV

Olahraga

Mengawali tulisan kali ini kita akan umumkan bahwa F1 musim 2014 tidak tayang di TV nasional free-to-air. KompasTV tidak melanjutkan hak siar untuk musim 2014 karena beberapa hal, salah satunya konon klausul hak siar yang sedikit ribet antara KompasTV dan Fox Sports Asia sebagai penyedia feed.

Selanjutnya kita akan lanjutkan ke urusan hak siar. Apakah TV gratisan yang menyiarkan olahraga itu mendapat untung atau tidak? Jawabannya adalah tidak! TV membeli hak siar olahraga adalah untuk gengsi nama besar (pencitraan) sekaligus sebagai salah satu cara untuk mentekel lawannya sesama stasiun televisi.

Masyarakat Indonesia termasuk yang cukup dimanjakan dengan ragam siaran olahraga secara gratis, terutama di dekade 1990-an. Mulai dari sepakbola, badminton, tenis, otomotif bahkan basket dulu bisa kita saksikan secara gratis dan membuat negara-negara tetangga iri

Namun semenjak dekade 2000-an saat harga hak siar perlahan tapi pasti naik, TV mulai mengurangi pembelian hak siar olahraga. TV di Indonesia mulai mengalihkan fokus ke acara yang mendatangkan uang sekalipun acara tersebut buruk atau tidak mendidik. Pada akhirnya semenjak dekade 2000-an hanya sepakbola dan otomotif yang masih bisa kita saksikan gratis walaupun banyak keterbatasannya.

Kenapa sih harga hak siar naik terus? Namanya juga bisnis, olahraga sekarang jadi ajang bisnis. Atlet dan tim bisa kaya salah satunya karena pemasukan hak siar TV selain tentunya pemasukan tiket dan bonus sponsor. Selain itu olahraga juga maju berkat adanya bisnis hak siar ini. Penawar tertinggi bisa melengkapi hak siar yang ia beli dengan teknologi-teknologi terbaru untuk menyiarkan acara olahraganya. Sudah barang tentu dalam hal ini TV-TV berbayarlah yang unggul, TV gratisan yang hanya mengandalkan pemasukan dari iklan semakin tertinggal.

Kita lihat contoh RCTI pada Piala Dunia 2010 dan SCTV pada Piala Dunia 2006. Bukan rahasia umum bahwa kedua stasiun TV tersebut mengalami kerugian yang jelas tidak sedikit. Namun satu hal yang bisa mereka raih adalah soal harga diri, gengsi dan nama besar yang kelak akan dikenang fans berkat tayangan akbar sepakbola dunia tersebut. ANTV dan tvOne sebagai TV penyiar Piala Dunia 2014 akan mati-matian agar tidak rugi besar.

Hal lain yang jadi pertimbangan TV tidak menyiarkan acara-acara olahraga adalah biaya operasional. Hak siar sudah pasti mahal, belum lagi biaya produksi seperti biaya untuk satelit dan lain sebagainya. Acara olahraga tentu sulit mencari pengiklan maka akhirnya dengan sangat terpaksa TV-TV melepas hak siarnya.

Bagaimana dengan MotoGP di Trans7? Sebagai TV penyiar, Trans7 kemungkinan juga tidak mendapat untung. Yang untung disini adalah Yamaha sebagai sponsor siaran tersebut. Kadang kala pers yang harus netral pun bisa berubah menjadi tidak netral seperti contoh beberapa komentar kontroversial baik dari presenter ataupun komentator Trans7 yang bisa jadi karena pesanan sponsor. Sederhananya, produk sponsor dilebaykan dan produk lawan direndahkan.

Jadi apa yang harus kita lakukan saat ini? Bagi orang yang punya uang lebih tentu tanpa ragu akan berlangganan TV. Bagi anak muda mungkin akan melakukan streaming agar tetap bisa menonton acara olahraga. Tapi bagaimana bagi orang yang pas-pasan? Inilah hidup, terkadang kita harus menahan rasa sakit ketika melihat kawan-kawan kita yang mampu menikmati apa yang selama ini kita bisa nikmati. Yang jelas di era saat ini hak siar di TV menjadi bisnis menjanjikan dan seolah memberi tanda bahwa hanya yang punya uang-lah yang bisa menikmatinya dan kenyataannya memang begitu, nasib oh nasib…

Pos ini dipublikasikan di Formula 1, MotoGP, Motorsport, Sepakbola, Umum dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.