Jeff Gordon Nyaris Saja ke F1

Jeff Gordon, juara empat kali Seri Piala

Jacques Villeneuve yang menjadi juara dunia Formula 1 pada musim 1997 coba mendekati Jeff Gordon, yang menjadi juara bertahan Piala Sprint di musim yang sama dengan kemungkinan rencana untuk membawa Jeff Gordon masuk ke ajang F1. Gordon lantas tertarik dan bersedia berdiskusi dengan Villeneuve.

Pernah mendengar cerita ini sebelumnya? Berita ini memang sulit dicari bahkan dengan bantuan Google. Sumber asli tulisan ini berujar dirinya bertemu dengan Tom Kendall, juara empat kali Trans-Am yang juga menjadi teman baik Gordon yang juga memiliki akses informasi kedalam mengenai rumor Gordon ke F1. Ketika ia ditanya soal hal ini ia mengatakan bahwa Gordon tidak jauh untuk masuk ke F1 dan itu menjadi hal yang sangat menarik bahkan untuk saat ini (sumber asli artikel ini ditulis pada tahun 2008).

Menurut Jeff Gordon ia secara kebetulan mendapatkan panggilan dari Jacques Villeneuve (JV) pada tahun 1997. Saat itu ia tengah menyusun rencana sebuah tim baru F1 dan Gordon menduga ia ingin ada seseorang dari Amerika terlibat dalam proyeknya. Secara kebetulan, Gordon juga merupakan penggemar dari JV dan ia tertarik mendengarkan rencana JV tersebut. JV juga memiliki hubungan dekat dengan Barry Green dan akhirnya mereka semua duduk bersama untuk membicarakan rencana tersebut.

Green telah membimbing karir JV di Amerika Utara, pertama melalui pengembangan di Atlantic Series sebelum selanjutnya ke CART IndyCar Series . JV memenangkan lomba Indianapolis 500 dan keluar sebagai juara umum pada tahun 1995, kemudian pindah ke F1 dengan Williams pada tahun 1996 .

Pada malam hari usai JV memenangkan Indy 500, sahabat-sahabat JV berkumpul di rumah insinyur mobil balap Adrian Reynard di utara Indianapolis, diawali pesta sampanya, mereka lantas berbicara soal kemenangan Indy 500 JV yang bisa dipakai sebagai awal rencana untuk membuat sebuah projek besar, membangun tim F1.

Mobil JV di CART disponsori oleh rokok Player, sebuah perusahaan Kanada yang dimiliki oleh British American Tobacco. Setelah JV hengkang, sponsor ini pindah ke Forsythe Racing melalui pembalap Kanada lainnya, Greg Moore pada tahun 1997. Green telah membuat kesepakatan dengan sponsor lain dari Brahma dan pembalap Raul Boesel pada tahun 1996 dan telah menandatangani kesepakatan jangka panjang yang menguntungkan dengan rokok KOOL untuk tahun 1997. KOOL juga sebagian sahamnya dimiliki oleh BAT .

Sponsor KOOL meminta kepada Green agar ia mengontrak pembalap Amerika. Parker Johnstone bergabung dengan tim Green dengan membawa mesin Honda pada tahun 1997, tetapi ia hanya mampu finis di urutan 16 klasemen dan akhirnya dipecat pada akhir musim.

Sementara itu, di sisi lain Atlantik, Craig Pollock, manajer dari Jacques Villeneuve, berhasil meyakinkan BAT untuk membeli tim punya nama di F1 tapi tengah diterpa kesulitan yaitu tim Tyrrell F1 pada bulan Desember 1997. Nama Tyrrell bertahan untuk 1998 sebelum berganti menjadi British American Racing (BAR) untuk 1999.

Sementara itu Barry Green masih di bawah perintah dari KOOL untuk menyewa seorang pembalap Amerika dan akhirnya ia memutuskan untuk mengincar Jeff Gordon. Ia berusia 26 tahun, memiliki latar belakang balapan roda terbuka -pengalaman di USAC- dan telah menunjukkan bakat luar biasa saat balapan di Watkins Glen pada 1997. Grren ingin mempekerjakan dia untuk tim CART-nya dan -melalui sosok Villeneuve dan tim BAR- menawarkan harapan masuk F1 dalam beberapa musim kedepannya.

Jeff Gordon bercerita bahwa ia duduk dengan Barry Green dan Craig Pollock di Martinsville, mereka saat itu membuat sebuah diskusi panjang tentang langkah-langkah yang dibutuhkan untuk sampai ke BAR ketika mereka membentuk tim tersebut dan apakah saya akan bisa menjadi pembalapnya. Masalah utamanya kata Gordon adalah ia harus membalap dulu di CART untuk membuktikan diri sebelum kemudian mendapat tes mobil F1. Gordon meyakini percakapan tersebut ada sisi baik dan buruknya yang kemudian memberinya keputusan untuk tidak menerima tawaran Green. Gordon pada musim 1997 sukses menjuarai Seri Piala untuk kedua kaliya dan merasa jika ia memaksakan pindah ke CART sama saja dengan membuat langkah kariernya mundur.

Andaikan saja Gordon berani ambil risiko pindah ke CART pada saat itu, mungkin dunia balap di Amerika akan terkena efek besar. Secara bisnis Gordon memiliki kredibilitas besar bagi CART yang tentunya akan menguntungkan secara bisnis. Perlu dicatat sejak musim 1996 CART bersaing ketat dengan Indy Racing League (IRL) untuk memperebutkan puncak teratas status sebagai balap mobil roda terbuka terbaik di Amerika Utara. Gordon bisa membuat perbedaan dalam kelangsungan hidup CART, yang saat itu mundur perlahan-lahan sebagian dari kurangnya pembalap Amerika.

Gordon juga akan menjadi teladan bagi pembalap NASCAR lainnya dan juga bagi perkembangan karier pembalap Amerika selanjutnya. Andai Gordon masuk ke CART, akankah Tony Stewart pindah ke NASCAR? Akankah Jimmie Johnson memilih untuk berkarier di roda terbuka ketimbang mobil stock? Perlu dicatat pula bahwa Johnson pada saat masa anak-anaknya adalah pembalap sepeda motor sebelum kemudian pindah ke ajang off-road. Dengan Gordon yang misalkan menerima tawaran membalap di CART, setidaknya para calon bintang motorsport Amerika punya banyak pilihan untuk menentukan puncak kariernya.

Bersama Green, Gordon akan bergabung dengan tim yang memenangkan balapan dan bersaing untuk menjuarai musim CART setiap tahunnya bersama Paul Tracy dan Dario Franchitti. Tim Green ini memiliki anggaran yang baik untuk operasionalnya. Gordon bisa membuat transisi sukses dari mobil stock ke mobil roda terbuka sebagaimana ia menunjukkan bakatnya dalam acara tukar mobil di Indianapolis Motor Speedway pada tahun 2003, ketika ia mengemudikan mobil Williams F1 milik Juan Pablo Montoya.

APakah Gordon akan masuk ke F1 seandainya karier CART-nya lancar? Kemungkinan bisa, Beberapa tim F1 yang termasuk elit, namun bukan Ferrari atau Williams, tertarik padanya pada tahun 2003. Gordon kemungkinan akan tiba di F1 pada tahun 2000 jika skema yang ditulis diatas lancar pada saat itu.

Namun sayangnya jika Gordon misalnya masuk ke F1 bersama tim BAR itu akan menjadi sebuah kegagalan besar bagi dirinya. Jacques Villeneuve bergabung dengan BAR pada 1999 dan setelahnya ia tidak bisa bersaing lagi di arena F1. Gordon mungkin akan bernasib lebih buruk, seperti Michael Andretti pada 1993 yang merupakan pembalap Amerika yang gagal bersaing di F1 sekalipun memiliki nama saat di CART.

Selanjutnya pada 1998 dan 2001 Gordon berhasil lagi menjuarai NASCAR Seri Piala, sekaligus menjadi bukti bahwa keputusannya memilih bertahan di NASCAR ketimbang pindah ke CART lalu ke F1 bersama BAR adalah tepat.

Sumber: CNN Sports Illustrated

Pos ini dipublikasikan di Formula 1, Motorsport dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.