Dramatic Monaco: Lomba Edisi 1982

GP Monako 1982

BERITA SATU – Penggemar Formula1 yang mencari balapan paling dramatis dan spektakuler harus tahu kejadian di Grand Prix Monaco musim 1982. Ketika itu 17 mobil gagal finis, enam pembalap bergantian memimpin ketika tinggal dua putaran saja, dan akhirnya hanya tiga mobil yang bisa menuntaskan balapan.

Dua mobil Renault milik Rene Arnoux dan Alain Prost memimpin di garis start. Arnoux berada di depan, sebelum akhirnya melintir di lintasan dekat kolam renang dan mesinnya ngadat setelah 14 putaran.

Pembalap lain juga bertumbangan misalnya Bruno Giacomelli (Alfa Romeo), Jacques Laffite (Ligier), John Watson dan Niki Lauda (McLaren), juara dunia Nelson Piquet dan Keke Rosberg (Williams) yang membalap di sana untuk pertama kalinya.

Prost mengambil alih pimpinan dan tampaknya cukup tangguh untuk keluar sebagai juara dan mengukuhkan posisinya di puncak klasemen.

Namun hujan mulai turun ketika balapan tingal dua putaran, dia kehilangan kendali di kelokan depan pelabuhan, yang waktu itu masih memungkinkan mobil melaju lebih kencang dari sekarang, dan menghantam pembatas jalan.

Mobilnya sempat terbanting beberapa kali dan ban terlontar ke arah penonton.

Akibat peristiwa itu Patrese ganti memimpin. Mobil Brabham sudah terbukti kencang sepanjang pekan itu dan yang perlu dilakukan si pembalap Italia adalah membawanya ke garis finis untuk kemenangan pertama dalam karirnya.

Tinggal satu putaran. Namun baru sepertiga putaran, mobilnya melintir dan berputar liar hingga menghadap arah berlawanan di trek. Mogok. Mobil-mobil di belakangnya mulai menyalip, termasuk Ferrrari milik Didier Pironi.

Dalam dua putaran terakhir itu, Pironi adalah pembalap ketiga yang memimpin lomba. Namun mobil Ferrari miliknya yang haus bensin tiba-tiba ngadat, tangki bahan bakar kosong.

Perhatian penonton beralih ke Andrea de Cesaris dengan mobil Alfa-Romeo yang kurang meyakinkan. Ternyata memang dia gagal menyalip Pironi, juga karena kehabisan bensin. Kemenangan sudah begitu dekat dan dia juga begitu sedih sehingga hanya bisa terduduk mengusap airmata di balik kain penutup kepalanya.

Masih ada Derek Daly yang baru dua kali membalap untuk tim Williams. Sebelumnya dia sudah menabrak pembatas dan beberapa komponen aerodinamika hilang.

Entah bagaimana dia bisa membuat mobilnya tetap jalan, namun tak dia sadari girboksnya retak dan dia mengotori trek dengan oli di sepanjang lomba. Pembalap ini, yang direkrut hanya karena pendahulunya pensiun mendadak, begitu dekat dengan gelar yang diinginkan semua pembalap F1 manapun: juara Monaco.

Ternyata juga begitu jauh! Girboks yang retak akhirnya tak mau diajak kompromi lagi, dan mobilnya ngadat di saat menentukan.

Komentator BBC, almarhum James Hunt, berkata: “Kami sekarang berada di situasi menggelikan, di mana kami duduk di sekitar garis start-finis menunggu pemenangnya melintas, dan tampaknya tak ada yang bakal datang!”.

Mobil yang tersisa di trek tinggal dua, sepasang Lotus merah-emas yang dikemudikan Nigel Mansell dan Elio de Angelis. Mansell masuk finis pertama dan mengira dirinya menang, disusul rekan setimnya.

Secara mengejutkan, Riccardo Patrese yang tadinya mogok muncul sebagai pembalap ketiga dan terakhir yang melintasi finis. Rupanya ketika mobilnya didorong pengawas balapan, dia bisa kembali menghidupkan mesin saat di turunan.

Belakangan diketahui dia sebelumnya sudah unggul satu lap dari pasangan Lotus yang finis di depannya. Situasinya kacau, dan stewards tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Patrese melewati garis finis tak sadar kalau dia menang. Ketika diberitahu, dia sama takjubnya seperti semua orang yang ada di sana, termasuk saya,” kata komentator F1 lainnya, Murray Walker.

Ketika menuju podium, ternyata di sana juga sudah ada Pironi, de Cesaris, dan de Angelis. Dan untunglah ada petugas yang membawa papan dan kertas catatan untuk menjernihkan situasi.

Maka, urutan pencetak poin di balapan itu adalah Patrese, Pironi, de Cesaris, Mansell, de Angelis dan Daly. Dan hanya separuh dari mereka ini yang benar-benar mendapat kibasan bendera finis.

Tahun itu Monaco menghasilkan balapan yang begitu dramatis dan begitu sulit ditebak hasilnya sehingga “kalau anda menulis skrip film tentang itu, pasti ditolak karena terlalu berlebihan,” kata Walker.

“Padahal ini peristiwa nyata yang pernah terjadi.”

Pos ini dipublikasikan di Berita, Formula 1 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.