Ulasan: James Bond 007 – Diamonds Are Forever (1971)

Poster film Diamonds Are Forever

Dirilis pada tahun 1971, Diamonds Are Forever adalah penampilan terakhir Sean Connery yang “resmi” sebagai James Bond (meskipun akhirnya dia membintangi Never Say Never Again pada 1983 yang merupakan remake dari Thunderball). Setelah melewatkan On Her Majesty’s Secret Service, Connery dipancing kembali ke peran 007 oleh tawaran yang sangat menguntungkan yang kemudian membuatnya menjadi aktor termahal pada saat itu. Kehadirannya, di samping beberapa kebolehan lamanya sebagai Bond, jelas membuat film ini sangat diminati. Pada saat Diamonds Are Forever diproduksi, Albert R. Broccoli dan Harry Saltzman telah mencapai kesepakatan dengan Roger Moore untuk film Live and Let Die dan The Man with the Golden Gun.

Untuk nostalgia kembalinya Connery, sebagian besar kru di belakang layar dari Goldfinger dipanggil kembali, mungkin dengan harapan menduplikasi kesuksesan film tahun 1964. Guy Hamilton kembali menjadi sutradara, Ted Moore sebagai sinematografer, dan spesialis skenario oleh Richard Maibaum dengan John Barry sebagai komposer musik untuk melanjutkan hubungan mereka dengan mitos James Bond. Tidak ketinggalan, Shirley Bassey, yang muncul dalam “Goldfinger” sebagai penyanyi lagu tema, diboyong kembali untuk menyanyikan lagu tema dalam film ini. Sayangnya, skenario Diamonds Are Forever yang sedikit kurang kreatif menghalangi film ini sendiri untuk bisa sebanding dengan Goldfinger.

Film Bond ketujuh ini dibuka dengan agen Inggris mencari musuh utamanya, Ernst Stavro Blofeld (kali ini berganti lagi dengan diperankan oleh Charles Gray), untuk membalas dendam atas pembunuhan istrinya, Tracy (dia ditembak saat adegan akhir On Her Majesty’s Secret Service). Setelah berhasil mengalahkan Blofeld, 007 menerima tugas untuk menyelidiki penyelundupan berlian. Dengan cara menyamar sebagai penyelundup, Bond melakukan perjalanan dari Amsterdam ke Las Vegas dengan berlian seberat lima puluh ribu karat untuk multi-jutawan tertutup bernama Willard Whyte (Jimmy Dean). Tidak ada yang tahu mengapa Whyte adalah seorang penimbun berlian, namun semua orang yang terlibat dalam operasi penyelundupan ini berakhir mati. Bond berhasil bergabung dengan sobat lama Felix Leiter (Norman Burton) dan “agen bebas” Tiffany Chase (Jill St. John), yang sama-sama berhubungan dengan berlian. Bond kemudian menembus apartemen pribadi Whyte hanya untuk menerima kejutan yang sangat buruk.

Diamonds Are Forever terkendala dengan sebuah masalah. Setelah awal yang menjanjikan, cerita menjadi sedikit aneh dan berbau komedi. Bagian tentang penyelundupan berlian dan seorang eksentrik kaya yang bersembunyi di sebuah penthouse hotel mungkin baik, tapi begitu memasuki cerita tentang Blofeld dan satelit laser rahasianya, barulah film ini menjadi penuh unsur tawa yang mungkin terbilang aneh untuk sebuah film Bond. Ruang berbasis elemen fiksi ilmiah, yang berada pada tingkat yang sama seperti yang di You Only Live Twice, dan kemudian diulangi lagi dalam Moonraker, Goldeneye dan Die Another Day, berakhir dengan antiklimaks, dengan semua rencana megalomaniacal Blofeld itu digagalkan oleh sebuah pencurian kaset rekaman lagu sirkus.

Kehadiran Connery terbilang berhasil mengangkat film ini ke tingkat yang sangat tinggi, tapi itu tidak mengejutkan. Sangat mudah untuk menonton Diamonds Are Forever karena adanya aktor utama James Bond yang berpengalaman. Sayangnya, pemain pembantu tidak memberinya banyak bantuan. Charles Gray tidak cukup jahat sebagai Blofeld (seperti kucingnya, Blofeld tampaknya memiliki sembilan nyawa dalam film ini). Bahkan, dari semua aktor untuk memainkan peran Blofeld ini, interpretasi Gray mungkin adalah yang terburuk. Lalu ada Jill St John, gadis Bond pertama dari Amerika, yang memberikan kesan sebagai salah satu wanita yang paling menjengkelkan dalam pertunjukan film 007. Norman Burton segera dilupakan sebagai Leiter, dan Jimmy Dean memainkan Whyte seperti seorang badut pengundang tawa.

Diamonds Are Forever juga memiliki adegan kejar-kejaran mobil yang cukup panjang, diantaranya dengan mobil bulan di Nevada dan berakhir dengan kejar-kejaran lawan polisi di Las Vegas. Ada juga adegan berkelahi yang menyenangkan di mana Bond dipukuli oleh dua perempuan tinggi (Bambi dan Thumper). Tidak ketinggalan adegan dua orang homo Mr. Wint (Bruce Glover) dan Mr. Kidd (Putter Smith) yang kalah lewat adegan bom di bagian akhir. Kesimpulannya, Diamonds Are Forever memberikan kesan terakhir Sean Connery sebagai James Bond yang kurang memuaskan. Meskipun begitu, Connery layak diapresiasi karena mampu mengugah penonton untuk menyaksikan film ini dan memberikan kesan bahwa ialah yang terbaik untuk selamanya.

Daftar kru yang terlibat:
Pemeran: Sean Connery, Charles Gray, Jill St. John, Jimmy Dean, Bruce Cabot, Norman Burton, Bernard Lee, Lois Maxwell, Desmond Llewelyn
Sutradara: Guy Hamilton
Produser: Albert R. Broccoli and Harry Saltzman
Skenario: Richard Maibaum and Tom Mankiewicz based on the novel by Ian Fleming
Sinematografi: Ted Moore
Musik: John Barry
Distributor: United Artists

Lagu tema pembuka film:

Pos ini dipublikasikan di James Bond, Umum dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.