Rory Byrne: Dari Kimia ke Mobil F1

Rory Byrne

Sedikit banyak yang tahu bahwa satu-satunya orang yang berhasil mengalahkan Adrian Newey di F1 era modern ini adalah Rory Byrne. Bagaimana tidak, Byrne yang berasal dari Afsel ini mampu menciptakan dua karya hebat yaitu mobil F2002 dan F2004 yang sukses mendominasi musim 2002 dan 2004 dengan meraih 15 kemenangan. Adrian Newey sampai saat ini belum bisa menyamai rekor Byrne dalam satu musim tersebut.

Byrne dilahirkan di Pretoria, Afrika Selatan pada 10 Januari 1944. Kecintaannya pada otomotif sudah ia mulai sejak kuliah. Pada awalnya dirinya sempat tertarik mengikuti balapan, namun setelah berpikir panjang, ia kemudian beralih ke aspek teknis mobil. Usai lulus dari Witwatersrand University, Byrne malah memulai karier sebagai ahli kimia. Niatnya masuk ke dunia balap harus ditunda sampai akhir 1960-an saat ia bersama Dave Collier, Ronny dan Dougie Bennett mendirikan sebuah perusahaan kecil yang memasok alat-alat balapan drag. Dengan bekal matematika dan tanpa pengetahuan teknik aerodinamika yang memadai, Byrne kemudian iseng-iseng merancang sebuah mobil balap dan tanpa diduga mobil karyanya tersebut memenangi kejuaraan Formula Ford musim 1972 di Afsel.

Bekal kesuksesan tersebut kemudian dipakai Byrne untuk melangkah lebih maju dengan pindah ke Inggris pada 1973. Ia kemudian memodifikasi sebuah mobil Formula Ford tua dan bekerja di sebuah perusahaan rancang bangun sasis selama empat tahun selanjutnya.

Tahun 1977 Byrne ditawari pekerjaan merancang mobil oleh Ted Toleman untuk berlaga di ajang Formula 2. Musim 1980 menjadi titik balik karier Byrne karena mobil rancangannya menguasai arena F2 musim tersebut dengan kemenangan 1-2 di klasemen akhir. Ted Toleman pun memikirkan turun di ajang F1 dan Byrne dipertahankan saat Toleman masuk ke F1 di musim 1981.

Selama dua musim berikutnya, Byrne berjuang keras merancang mobil F1 yang baik dengan dana pas-pasan dari tim. Kejutan besar datang di 1984 saat Toleman mengontrak Ayrton Senna. Dengan mobil buatan Byrne, Senna mampu finish kedua di Monaco dibawah guyuran hujan lebat. Byrne bahkan yakin Senna akan memenangi lomba jika saja panitia tidak menghentikan lomba. Senna sendiri menyebut bahwa penghentian lomba tersebut sebagai akal-akalan agar pembalap Prancis dan mobil Prancis (Alain Prost dari Renault) bisa memenangi lomba di Monaco. Senna kemudian hengkang dari Toleman di akhir 1984 dan Byrne bertahan di tim itu sampai akhirnya dibeli oleh Luciano Benetton di akhir 1985.

Selama masa kariernya di Benetton, Byrne termasuk salah satu insinyur yang cukup handal dalam membangun mobil untuk sebuah tim yang saat itu terjebak dibelakang kisah legendaris Ferrari-McLaren-Williams. Kemenangan perdana Byrne di F1 diraih di GP Meksiko 1986 melalui tangan Gerhard Berger. Nyaris setiap musim mobil-mobil karya Byrne mampu memenangi minimal satu lomba, tetapi tim Benetton nyaris tidak pernah mendekati posisi tiga tim teratas saat itu.

Awal 1990-an, Benetton mengalami perombakan dengan kedatangan Flavio Briatore dan Michael Schumacher. Rory Byrne kemudian mencoba eksperimen pada mobil B193 dengan memasang suspensi aktif, transmisi semi-otomatis, dan kontrol traksi. Hasilnya Schumi berhasil meraih satu kemenangan balapan di musim tersebut, dan menandakan bahwa inovasi dan eksperimen Byrne akan meningkat di musim 1994.

Awal musim 1994, mobil B194 karya Byrne mampu meraih tiga kemenangan awal musim dan mengundang decak kagum grid F1 saat itu. Namun disisi lain ada juga yang sinis dan menuduh bahwa Benetton melakukan kecurangan di musim 1994 dengan memakai kontrol traksi ilegal. Tetapi langkah-langkah lawan Byrne gagal menemui hasil dan B194 sukses mengantar Michael Schumacher meraih gelar juara dunia. Hal ini pun kembali mereka ulangi di musim 1995 dengan metode “Evolution Not Revolution”. Bahkan selain gelar pembalap, Benetton pun untuk kali pertama mampu menjadi juara dunia kosntruktor.

Akhir 1995, Schumi hengkang ke Ferrari dan Byrne saat itu mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari F1 dan akan membuka sebuah sekolah menyelam di Thailand karena istri Byrne berasal dari sana. Tetapi keadaan buruk di Ferrari memaksa Schumi memanggil Ross Brawn dan Rory Byrne untuk membantunya. Akhirnya di musim 1997, Ross Brawn dan Rory Byrne setuju untuk bergabung bersama Ferrari. Selama dua musim mereka kemudian mencoba membangun sebuah tim kuat dan hasilnya mulai terasa di 1999 saat Ferrari menjadi juara dunia konstruktor. Musim 2000 dengan karya inovatif lainnya dari Rory Byrne, Schumi akhirnya berhasil menjadi juara dunia. Sebuah gelar yang kemudian ia berhasil pertahankan di musim 2001 sampai 2004. Musim 2002 dan 2004 malah menjadi musim sensasional dengan Ferrari yang sangat mendominasi musim. Sampai akhir 2004, Ferrari dibawah Brawn dan Byrne mampu meraih 71 kemenangan balapan.

Akhir 2005, usai mengalami musim buruk bersama Ferrari, Byrne menegaskan bahwa ia akan bertahan di Ferrari sebagai konsultan sampai akhir 2006. Karya terakhirnya di Ferrari adalah F2007 yang dikembangkan bersama Aldo Costa. Mobil ini lagi-lagi mengantar Ferrari, kali ini lewat Kimi Raikkonen, berhasil menjadi juara dunia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Formula 1, Motorsport dan tag , , , . Tandai permalink.