Sebastian Vettel – The Rated “F1” Superstar

Sebastian Vettel

Sebastian Vettel

Kita kesampingkan dulu nama-nama kondang seperti Michael Schumacher, Kimi Raikkonen, Fernando Alonso, Jenson Button, Mark Webber, Felipe Massa, dan bahkan si tua Jacques Villeneuve.

Lewis Hamilton, tentunya Anda sudah kenal bukan? Pembalap agresif, dan selalu muncul dengan kontroversi. Terutama yang terbesar adalah kasus membohongi publik di GP Australia 2008 lalu. Yah eneg dan lucu saat melihat sang Booker T ini memenangi balapan. Dan lebih lucu lagi saat namanya diagung-agungkan oleh sebuah majalah F1 asal Inggris yang Anda suka baca setiap bulan. Sampai-sampai kekonyolannya adalah membuat suplemen di 2007 lalu yang berlembar-lembar sementara kisah petualangan perebutan gelar Kimi Raikkonen sebatas hanya laporan balapan saja.

Bagi orang Inggris, yang benci tentunya sama orang Jerman, Hamilton ibarat dewa, dipuja oleh tim juga sampai-sampai selalu mengorbankan Jenson Button, dan kerap kali disebut sebagai calon penerus Schumi. Tapi bagi saya, ia bukanlah penerus Schumi. Ada seseorang yang layak dibilang sebagai penerus Schumi yang sebenarnya.

Siapa orang itu? Ia lahir di Heppenheim, 3 Juli 1987, bermuka imut tapi gaya membunuhnya luar biasa. Dia adalah Sebastian Vettel. Lantas kenapa saya sebut Vettel calon penerus Schumi? Mari kita lihat.

1. Vettel memulai karir sebagai pembalap pengganti:
Debut Vettel di F1 dimulai di GP AS 2007, ia masuk tim BMW Sauber menggantikan Robert Kubica yang celaka di Kanada seminggu sebelumnya. Kilas balik ke Belgia 1991, Schumi masuk tim Jordan juga sebagai pengganti Bertrand Gachot yang mengalami kasus kriminal di Inggris akibat mnyemprot sopir taksi dengan gas CS. Dalam pengamatan saya untuk hal ini, Vettel jelas lebih baik ketimbang Schumi. Nah kalau Hamilton hanya doping saja, bekal kedekatan dengan Ron Dennis dan hal ini yang jadi pemicu kemarahan Alonso di 2007 lalu dan kekecewaan Heikki Kovalainen di 2008-09.

2. Vettel pindah tim di sisa musim:
Masuk ke GP Perancis 2007, Vettel diambil tim Scuderia Toro Rosso menggantikan Scott Speed. Kilas balik juga ke 1991, satu balapan bersama Jordan, Schumi lantas diselamatkan Flavio Briatore ke tim Benetton. Dalam hal ini baik Vettel dan Schumi imbang karena sampai akhir musim mereka gagal mendapatkan podium.

3. Vettel menang di tahun keduanya di F1:
Tentunya Anda ingat aksi heroik Sebastian Vettel di Monza 2008. Menang dengan mobil underdog. Mari kita kilas balik ke Spa 1992, disana Schumi menang balapan untuk pertama kalinya. Secara unik juga baik Vettel dan Schumi menang dengan cara yang sama, yaitu dalam kondisi cuaca basah kuyup. Perbedaannya hanya satu, Vettel melakukannya dari pole, sementara Schumi memulai balapan dari P3. Dan kembali lagi mereka berbeda dengan Hamilton yang hanya menang dengan mengandalkan mobil di Kanada 2007 lalu.

4. Vettel runner-up klasemen termuda dalam sejarah:
Inilah satu-satunya kategori yang tidak bisa disamai Schumi. Tahun 2009 lalu Vettel sukses menjadi runner-up termuda dalam sejarah F1. Schumi sendiri sampai ia jadi juara dunia di 1994 sama sekali tidak pernah finish runner-up dalam klasemen. Di 1993 ia finish P4 sementara di 1992 ia finish P3.

5. Vettel peraih pole termuda dalam sejarah:
Sejarah lain dicetak Sebastian Vettel di Monza 2008. Ia menjadi peraih pole position termuda dalam sejarah F1. Schumi sendiri kalah dalam hal ini, karena ia baru meraih pole di Monaco 1994.

6. Emosi Vettel sama dengan Schumi:
Sekilas pasti Anda akan memarahi Vettel karena insiden dengan Webber di Turki dan Button di Belgia. Jangan khawatir, guru Vettel yaitu Schumi juga pernah melakukan hal sama, malah lebih parah. Di Perancis 1992 ia menyeruduk Ayrton Senna dari belakang sampai-sampai moncong mobilnya hancur. Kemudian di Inggris 1994 ia menyalip Damon Hill saat sesi warm up, yang mengakibatkan ia kena diskors dua kali balapan. Menurut media Jerman, Schumi kerap kali berbuat salah saat posisinya tengah terdesak atau putus asa karena kesulitan menyingkirkan lawan. Bagi Schumi lebih baik ia dan lawannya DNF dengan 0 poin daripada sang lawan diuntungkan dengan poin lebih karena finish-nya lebih tinggi. Apakah Vettel juga begitu? Silakan Anda nilai sendiri.

Nah, Damon Hill. Dulu waktu Williams masih jaya, Damon Hill adalah idola media massa Inggris. Sampai-sampai pers menyebutnya sebagai pembalap pengganti sempurna pasca wafatnya Ayrton Senna. Tapi ternyata di 1994 Schumi yang keluar sebagai juara dunia. Kalau di era modern ini, Hamilton sudah menjadi juara dunia, dan ia jadi idola Inggris.

Tuhan memang adil, ditengah kebanggaan untuk Lewis Hamilton, Tuhan mengirimkan seorang pemuda penuh talenta, yaitu Sebastian Vettel. Cepat atau lambat kita yakin ia akan menjadi juara dunia masa depan, bahkan jika Tuhan mengizinkan, dengan bekal agresifnya itu, Vettel bisa menyamai rekor Schumi karena usianya masih muda. Samakan tahun debut Vettel di 2007 dengan debut Schumi di 1991, samakan tahun kemenangan balapan Vettel di 2008 dengan kemenangan balapan pertama Schumi di 1992. Sesudah itu dua tahun Schumi tampil biasa dan kerap ceroboh. Jika pengulangan dua tahun ceroboh itu sama, kemungkinan besar musim 2011 Vettel akan juara dunia bersama Red Bull, dan di 2013 nanti, kalau Vettel berhasil dua kali juara dunia, ia akan menyamai Schumi juga dan lengkaplah catatannya karena kemungkinan nantinya Vettel akan ditarik ke Ferrari suatu saat nanti.

Oleh: Bertho Mulwiennoer

Pos ini dipublikasikan di Formula 1 dan tag , , , . Tandai permalink.